Desa Balai Pungut yang terletak di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau, merupakan kisah panjang tentang pusat perdagangan tradisional, peradaban suku asli, hingga saksi bisu awal mula industri minyak bumi di Nusantara. [1]

Secara garis besar, sejarah Balai Pungut terbagi dalam beberapa periode penting:

1. Era Kerajaan Siak dan Asal-usul Nama

Pada masa kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, wilayah ini merupakan daerah strategis yang memegang peran penting di sepanjang Sungai Mandau. Nama Balai Pungut berasal dari dua kata: [1, 2, 3, 4]

  • Balai: Tempat pertemuan atau persinggahan.
  • Pungut: Aktivitas mengumpulkan atau memungut. [1, 2]

Pada era tersebut, tempat ini berfungsi sebagai pusat pemungutan upeti/pajak serta tempat pengumpulan hasil hutan (seperti damar, rotan, gaharu, dan kayu) serta hasil sungai yang diperoleh dari masyarakat sebelum dibawa ke pusat kerajaan. Desa ini juga dikenal sebagai salah satu pemukiman tertua bagi suku asli Melayu Sakai di wilayah tersebut. [1, 2]

2. Saksi Bisu Sejarah Migas Riau

Balai Pungut memegang peranan krusial dalam sejarah penemuan minyak bumi di Blok Rokan. Sebelum infrastruktur jalan darat dibangun, Sungai Mandau yang melintasi desa ini merupakan jalur transportasi logistik utama. [1, 2]

  • Era NPPM (1935): Perusahaan minyak asal Amerika, Nederlandsche Petroleum Pacific Maatschappij (NPPM)—cikal bakal Caltex/Chevron—melakukan pengeboran eksplorasi pertamanya di Blok Sebanga pada tahun 1935. Logistik mereka masuk melalui dermaga Balai Pungut. Di desa ini terdapat Tugu NPPM sebagai penanda sejarah tersebut. [1, 2]
  • Gudang Material (Yard) Caltex: PT Caltex Pacific Indonesia menjadikan kawasan tepi sungai Balai Pungut sebagai yard atau tempat penumpukan material berat dan peralatan pengeboran sebelum lapangan minyak Duri resmi beroperasi penuh. [1]

Untuk mengenang jasa pelabuhan historis ini, masyarakat setempat mendirikan Tugu Nasi Kunyit (Tugu Kuning) tepat di ujung Jalan Pelabuhan, lokasi bekas dermaga Caltex. [1, 2]

3. Pembentukan Pemerintahan Desa

Secara administratif modern, perkembangan desa ini mulai teratur pada pertengahan abad ke-20. Pada sekitar tahun 1955, seorang pejuang sekaligus ulama setempat bernama Penghulu Lebar memimpin wilayah ini dan menyatukan dusun-dusun kecil di sekitarnya. Ia tercatat sebagai Kepala Desa/Penghulu pertama yang meletakkan dasar pemerintahan desa hingga tahun 1987. []

4. Transformasi Menjadi Desa Wisata

Saat ini, sisa-sisa sejarah dan keasrian alam Sungai Mandau di Balai Pungut dikembangkan menjadi destinasi wisata. Melalui program pemberdayaan masyarakat bersama instansi seperti PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), kawasan Tepian Batang Mandau ditransformasikan dari jalur logistik minyak kuno menjadi objek wisata alam dan budaya, seperti gelaran tradisi tahunan Pacu Sampan. [1, 2, 3]